Saturday, 29 March 2014

Apa Sih Cinta?


Apa sih cinta?
Mungkin pertanyaan gue yang ini adalah pertanyaan paling bodoh yang ada di dalam catatan ini. Nggak masalah kalau memang 

Monday, 9 April 2012

Dalam Cinta Ada Break?

Cinta....
Selalu ada fenomena menarik di balik kata itu. Nggak tau juga apa. Tapi yang jelas, selalu ada pembahasan tentang cinta yang akan muncul di hidup kita sehari-hari. Ibarat virus yang menjangkit di seluruh tubuh, virus cinta adalah virus yang akan menggerogoti semua sel yang ada di dalam tubuh, dan manusia yang telah tergerogoti oleh virus itu nggak akan sadar bahwa semua selnya telah terserang virus yang disebut dengan virus cinta. Selalu ada hal yang membuat seseorang mengatasnamakan kata "cinta" untuk berbuat sesuatu.

Termasuk ketika suatu malam, gue, dan tiga kawan gue, dua cowok dan satu cewek. Kawan satu kampus yang sama-sama ikut dalam kegiatan bela diri. Tiga kawan gue itu sebut saja joni, alex, dan risa. Nama sengaja disamarkan biar nggak dianggap sedang menyebarkan aib orang. Tapi sebenernya bukan aib juga sih. Obrolan soal cinta sebenernya sudah dianggap sesuatu yang wajar di kehidupan kita.

Sore menjelang malam, sekitar jam 18.45, gue niatnya mau pulang ke kosan. Udah hampir meluncur ke parkiran motor yang berjarak seratus meteran. Eh di lobby kampus ketemu sama joni, alex, dan risa.
"Mau ke mana?" Tanya gue basa-basi ke mereka bertiga. Yah, masa iya ada tiga orang mendekat di hadapan gue malah gue cuekin.
"Mau makan nih. Di kantin belakang kampus. Laper kita." Ucap Joni mewakili Alex dan Risa juga.
"Oh...kebetulan deh. Sekalian gue ikut." Kata gue, dan emang kebetulan parkiran motor ada di sebelah kantin belakang kampus.
Singkat cerita, kami berempat berjalan beriringan menuju kantin belakang kampus. Ditemani rintik hujan, dan becek-beceknya air yang masih mengalir di pinggiran jalan setapak yang udah disemen biar bisa buat jalan, serta gemuruh petir yang sesekali muncul, gue sama Alex jalan di depan, si Joni dan Risa di belakang kami. Nggak ada obrolan menarik. Alex sibuk dengan playlist musik yang lagi dia dengerin dari ponselnya. Si Joni sama si Risa cuma ngomongin soal bungkusan cokelat yang dibawa Risa. Kata Risa sih itu sampah. Padahal jelas-jelas bisa dibaca, ada tulisan "Revisi Skripsi" di salah satu sisi bungkusan itu.

Setelah berada di persimpangan jalan menuju kantin dan parkiran motor, gue pamit. Pamit beneran,"Bro, gue balik duluan ya!"
"Lah? Katanya ikut makan?" Tanya Alex. Perasaan tadi gue bilangnya ikut jalan sekalian deh. Nggak ada kalimat yang mengindikasikan gue mau ikut makan.
"Ayolah makan dulu. Masa tanggal segini udah resesi?" Rayu si Risa.
"Okelah." Kata gue membatalkan tujuan awal gue ke parkiran motor buat langsung balik ke kosan. Sebenernya gue udah capek banget sih. Dari pagi ngerjain presentasi buat seminar judul skripsi (walau belum tau jadwalnya kapan!), terus siang sampe sore belagak ngajarin kawan gue yang lagi pusing skripsinya ditolak terus sama dosennya (padahal gue sendiri sampe sekarang belum tau nasib masa depan skripsi gue gimana). Yaudah lah, daripada di kosan bengong, perut juga lapar.

Kami ber empat makan sendiri-sendiri. Nggak ada istilah saling menyuapi, karena kami masih sadar betul, saling menyuapi apalagi antara pria dan satu dengan pria yang lainnya di tempat umum dapat menimbulkan dugaan negatif dari khalayak ramai. yah, walau di situ ada Risa, tapi tetep aja. Seorang wanita yang mengikuti bela diri, punya karakter maskulin yang akan muncul di dalam dirinya.

Gue mesen ayam goreng, si Risa mesen sate padang, Alex cuma pesen teh poci buat kami ber empat. Kata Alex, dia udah makan tadi sore. Lah! Kalo udah makan, ngapain lo ngajakin gue ke kantiin? Pikir gue.
Si Joni, dari gue pesen sampe makanan dateng, dia masih bimbang mau makanan apa. Eh akhirnya dia ngikut juga mau makan ayam. Katanya dia ngiler liat sambel yang melumuri dada bagian atas ayam yang gue pesen.

Makanan gue udah abis.Dan yang lain masih enjoy dengan makanannya masing-masing. Daripada gue bengong dan bisa-bisa kesambet sama setan kantin belakang, akhirnya gue mulai membuka pembicaraan yang agak serius, paling nggak setema lah.

"Eh Ris, kok tumben lo mau makan sama Alex sama Joni?" Gue membuka pembicaraan.
Alex yang lagi nyruput teh poci yang dipesannya tersedak. "Yah Yam! Lo nggak tau kalo Risa udah putus?"
PAS! Alur pembicaraan telah terskema dengan baik. Otak gue langsung berputar mencari jalur pertanyaan lanjutan. Si Risa masih diem aja belum menanggapi pertanyaan gue.
"Oh iya? Kenapa putus? Kapan? Lo yang mutusin?" Tanya gue bertubi-tubi. Tapi gue pikir, jahat juga ya gue. Udah kayak wartawan infotaiment gadungan yang udah kepepet deadline, akhirnya makan jatah pribadi kawan gue sendiri. Ya, tapi mau gimana lagi. Daripada nggak ada bahan omongan. Kan omongan soal cinta adalah salah satu jenis omongan yang mudah dikembangkan kerangkanya. Daripada gue ngomongin soal skripsi, yang ada malah makanan yang udah ketelen jadi keluar semua.

Risa masih mencoba diem. Tapi gue tau, dia mau jawab tapi malu. Ya iya lah Yam! Mana ada cewek yang mau membuka tabir cinta yang gagal secara langsung, apalagi di depan cowok!


"Apaan sih lo Yam!" Risa mulai memberi respon.
"Hehehe....jadi lo diputusin sama Bambang? Kebanyakan ngerjain skripsi sih lo!" Kata Gue bikin asumsi sendiri.
"Idih! Apaan dah lo Yam! Kok jadi ngomongin gue sih?" Risa mulai memberikan respon yang gue harapkan. Dia menghentikan gigitan sate padangnya, kemudian cengar-cengir. Si Alex dan Joni udah berhenti dari aktivitas makan dan nyruput teh pocinya. Semuanya udah siap menyimak cerita yang akan disampaikan oleh Risa.

"Kok kalian malah jadi ngeliatin gue?" Risa malah salah tingkah. Bibirnya cengar-cengir, tapi gue yakin hatinya merintih. Gimana nggak? Kisah kelamnya diobok-obok sama tiga cowok, apalagi salah satu cowok yang ada di situ adalah gue, cowok yang nggak tau malu, asal nyeplos aja. :)

Suasana hening. Gue, Alex, dan Joni masih menghentikan aktivitas kami masing-masing. Si Risa masih mencoba menelan ketupat yang dihidangkan bersama sate padang. Tapi kayaknya gue liat ketupatnya jadi agak sepet gara-gara dia ditanya soal hubungan cintanya yang kandas bersama mantannya.

"Gue yang minta break sama si Bambang." Risa tiba-tiba memberi penjelasan. Sebenernya gue sendiri sih udah nggak begitu ngarep dia mau ngasih jawaban sih. Lagian jawaban si Risa juga udah ketebak.

"O....." Udah kayak paduan suara yang gagal ikut audisi penyanyi berbakat, gue, Alex, dan Joni langsung berlagak baru ngerti. Setelah itu, kami bertiga langsung kembali menyimak, tak lupa kalimat awalan,"Terus gimana?"

Risa mulai membuka tabir cintanya. "Yaudah, break aja. Karena gue sama dia ngerasa nggak cocok lagi, akhirnya putus deh. Udah lah!"

Sedikit cerita, satu istilah dalam dunia percintaan, yang sampai sekarang masih menjadi tren diantara kawula muda. BREAK! Istilah yang sampai sekarang gue nggak mengerti juga makna hakikinya itu apa. Minta istirahat ketika sedang memadu cinta? Atau aktivitas yang terhenti sementara ketika sedang bercinta? Waduh, makin pusing lah gue.

Break dalam bercinta. Kayaknya udah jadi hal lumrah diantara jutaan kawula muda yang sedang memadu cinta. Terlepas dari hal itu benar atau tidak, setidaknya ada alasan (baik itu logis maupun nggak) yang membuat fenomena break banyak muncul.

Minta istirahat, mungkin saja karena sudah lelah dengan hubungan yang telah dijalin. "Yah, namanya juga anak muda". Kalo ujung-ujungnya kalimat itu yang muncul, akan banyak pemakluman yang dikeluarkan ketika dua insan yang sedang memadu cinta tiba-tiba terjadi break. Yasudah lah.